
Buku ketiga dari Tetralogi Buru karya penulis ternama Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, berjudul "Jejak Langkah". Biografi Tirto Adhi Soerjo, seorang bangsawan Indonesia dan jurnalis perintis yang berperan penting dalam sejarah pergerakan nasional, dikisahkan dalam tetralogi yang sangat berharga ini. Berdasarkan kisah nyata Tirto Adhi Soerjo, Pramoedya menggunakan Minke sebagai narator dan protagonis dalam tetralogi ini.
Setelah Minke pindah dari Surabaya ke Batavia, yang merupakan pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda saat itu, "Jejak Langkah" mengisahkan hidupnya. Minke bersinggungan dengan realitas kehidupan kolonial yang rumit di Batavia. Max Lane menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1990 setelah awalnya diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1985.
Dalam penilaiannya di World Literature Today, Carlo Coppola dari Universitas Oakland mengklaim bahwa buku ini menunjukkan "komitmen yang kuat terhadap cita-cita humanis yang luas." Keterasingan yang dibawa orang Eropa kepada rakyat Hindia Belanda yang tertindas diperbandingkan dalam buku ini dengan antusiasme Minke terhadap teknologi kontemporer dan gagasan kebebasan yang dibawanya.
Publishers Weekly mengulas buku ini, menunjukkan perbedaan antara "impian Minke tentang Indonesia yang bersatu, multietnis, dan merdeka" dan "realitas keras pendudukan kolonial." "Penaklukan brutal" dan penindasan penduduk asli Hindia Belanda oleh para penguasa Belanda dan kaki tangan pribumi mereka merupakan fokus lain dari buku ini. Novel ini juga menggambarkan perkembangan Minke melalui dua pernikahannya.

