
"Rumah Kaca" adalah buku keempat dan terakhir dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Dengan Minke dan Tirto Adhi Soerjo yang tak lagi menjadi tokoh utama, buku ini menawarkan sudut pandang yang berbeda dibandingkan tiga pendahulunya, "Bumi Manusia", "Anak Segala Bangsa", dan "Jejak Langkah". Kali ini, Pramoedya memutuskan untuk menjadikan Jacques Pangemanann, seorang perwira polisi kolonial Belanda, sebagai protagonis.
Jacques ditugaskan untuk memata-matai dan menekan Minke, seorang tokoh terkemuka gerakan nasionalis, dalam konteks kolonial Belanda yang masih terasa. Kita diajak untuk menelaah taktik pemerintah kolonial untuk membungkam mobilitas Minke melalui sudut pandang Jacques, yang mencakup pemantauan ketat dan pengarsipan metodis di samping kebrutalan fisik.
Teknik pemantauan ini disebut Pramoedya sebagai "rumah kaca", yang menunjukkan bagaimana setiap tindakan Minke diawasi ketat, seolah-olah ia tinggal di rumah kaca yang bening. "House of Glass" menyajikan sudut pandang baru tentang konflik antara penjajah dan para pemimpin gerakan bagi mereka yang menyukai fiksi berlatar sejarah dan politik.
Selain itu, pembaca belajar tentang beban psikologis signifikan yang ditimbulkan oleh prosedur pengarsipan pemerintah kolonial bagi Minke dan Jacques Pangemanann. Dilema moral seorang penjajah yang perlahan mulai mempertanyakan sistem yang dilayaninya terungkap dalam buku ini, bersama dengan konflik politik dan pemantauannya.

